Upacara dan Ritual Bali serta Cara Bersikap di Dekatnya

21 Juni 2023

City Game Bali Beach

Bali adalah satu-satunya provinsi Indonesia yang mayoritas penduduknya Hindu, dan agamanya — Agama Hindu Dharma — terjalin dalam kehidupan sehari-hari secara lebih kasatmata daripada hampir semua tempat lain yang mungkin didatangi seorang pelancong. Upacaranya tidak digelar untuk pengunjung; ia adalah kalender biasa pulau itu, dan kalian akan berjalan masuk ke tengahnya entah direncanakan atau tidak.

Berikut yang paling mungkin kalian lihat, apa artinya, dan bagaimana bersikap.

Canang sari: persembahan harian

Wadah kecil anyaman janur berisi bunga, beras, dan sebatang dupa muncul di pelinggih, tangga toko, trotoar, sepeda motor, dan pantai, beberapa kali sehari. Masing-masing diletakkan dengan doa dan percikan air, dan tindakan membuat serta meletakkannya lebih berarti daripada bendanya.

Jangan menginjaknya. Kalau ada satu di trotoar, berjalanlah memutarinya. Tidak akan ada yang membentak kalian, tapi semua orang memperhatikan.

Nyepi: hari raya sepi

Tahun Baru Saka Bali, pada bulan Maret, ditandai dengan dua puluh empat jam keheningan penuh. Tidak ada lalu lintas, tidak ada kerja, tidak ada lampu di malam hari, tidak ada yang keluar dari tempat tinggalnya. Bahkan bandara internasional Bali tutup sehari, yang menjadikannya satu-satunya bandara di dunia yang rutin ditutup demi sebuah perayaan keagamaan.

Malam sebelumnya, desa-desa mengarak ogoh-ogoh — patung raksasa berwujud makhluk jahat yang dibangun berminggu-minggu dari bambu dan bubur kertas — keliling jalan sebelum dibakar atau dibongkar, untuk mengusir roh jahat. Suasananya riuh, kacau, dan termasuk hal terbaik yang bisa disaksikan di Asia Tenggara.

Kalau kalian berada di pulau itu saat Nyepi, kalian tinggal di penginapan. Petugas tetap akan memberi makan; kalian tidak keluar, dan sebaiknya tidak memakai lampu yang terlihat dari luar. Aturan itu bukan ditujukan kepada wisatawan — semua orang menjalankannya.

Galungan dan Kuningan

Galungan menandai kemenangan dharma atas adharma dan saat roh leluhur kembali berkunjung. Ia mengikuti kalender pawukon Bali yang berdaur 210 hari, sehingga jatuh dua kali dalam kebanyakan tahun kalender Masehi, dan tanggalnya bergeser.

Kalian akan mengenalinya dari penjor: batang bambu tinggi melengkung yang digantungi anyaman janur, padi, dan buah, ditancapkan di depan setiap rumah di sepanjang setiap jalan. Kuningan, sepuluh hari kemudian, menandai kepulangan para roh, dan persembahan dilakukan pada pagi hari karena mereka dipercaya berangkat menjelang tengah hari.

Melasti dan laut

Pada hari-hari menjelang Nyepi, desa-desa mengusung pusaka pura ke laut dalam iring-iringan panjang berbusana putih, untuk menyucikannya di air. Kalau kalian berpapasan dengan satu iring-iringan di jalan, menepilah dan tunggu. Jangan mendahului sebuah iring-iringan.

Melukat: penyucian dengan air

Ritual pembersihan yang dilakukan di mata air suci, paling terkenal di Tirta Empul dekat Tampaksiring, tempat orang mengantre di sepanjang deretan pancuran batu dan mandi di bawah tiap pancuran secara berurutan. Pengunjung boleh ikut, tapi ini tindakan keagamaan dan bukan berenang: kenakan kain yang disediakan, ikuti urutannya, dan lewati pancuran yang dikhususkan untuk upacara kematian — pihak pura menandainya.

Ngaben: upacara pembakaran jenazah

Ngaben membebaskan jiwa dari raga, dan ia adalah perayaan alih-alih acara berkabung: gamelan, kerumunan, sebuah menara megah yang mengusung jenazah, sengaja diputar di perempatan agar rohnya bingung soal jalan pulang. Karena mahal, keluarga sering menunggu bertahun-tahun dan menggelar upacara bersama.

Pengunjung kadang dipersilakan menonton. Tanyalah dulu, berpakaianlah pantas, berdirilah di belakang, dan jangan memotret keluarganya dari dekat.

Tari Kecak itu sebenarnya apa

Lingkaran penyanyi terkenal yang bisa kalian tonton di Uluwatu saat matahari terbenam bukanlah ritual pura kuno. Kecak dikembangkan pada 1930-an, mengambil dari ritual kesurupan sanghyang, dan dibentuk untuk penonton dengan keterlibatan seniman Jerman Walter Spies. Itu tidak membuatnya tidak autentik — ia sungguh-sungguh Bali dan kini sudah berumur puluhan tahun — tapi ia sebuah pertunjukan, bukan upacara yang sedang kalian sela.

Tata krama yang penting

Kenakan kain dan selendang di pura; biasanya tersedia di pintu masuk. Tutupi bahu kalian. Jangan berdiri lebih tinggi daripada pemangku atau di depan orang yang sedang sembahyang, yang berarti sebagian besar foto yang diincar pengunjung memang tidak boleh diambil. Jangan menyentuh kepala orang, dan jangan mengarahkan telapak kaki ke pelinggih atau ke orang.

Pura memasang aturan yang meminta perempuan yang sedang haid tidak masuk; itu ditanggapi serius dan berlaku untuk semua orang. Jangan memanjat pelinggih, pohon suci, atau gapura pura demi foto — orang pernah dideportasi karenanya.

Bali juga menerapkan pungutan wisatawan asing yang diberlakukan beberapa tahun terakhir; cek jumlah terkini dan cara membayarnya sebelum terbang.

Menjelajah dengan hormat

Cara terbaik memahami semua ini adalah berjalan kaki, pelan-pelan, di tempat yang memperlihatkan kehidupan sehari-hari alih-alih sebuah pertunjukan berjadwal. Permainan kota bekerja dengan cara sama: tim kecil, sebuah ponsel, teka-teki yang terikat pada jalan dan bangunan sungguhan, tanpa pemandu dan tanpa jam mulai yang tetap — kalian yang mengatur tempo dan berhenti kapan pun ada sesuatu yang sedang berlangsung.

Ini cocok untuk teman, keluarga, serta acara kantor dan rombongan besar. Halaman cara kerjanya menjelaskan formatnya langkah demi langkah.

Pertanyaan yang sering diajukan

Kapan Nyepi?

Pada bulan Maret, pada tanggal yang ditetapkan kalender Saka Bali, jadi ia bergeser tiap tahun. Cek dulu sebelum memesan penerbangan, karena bandaranya tutup.

Bolehkah wisatawan menghadiri upacara Bali?

Sering boleh, kalau kalian diundang atau puranya terbuka, dan kalau kalian berpakaian serta bersikap pantas. Bertanyalah, jangan mengira-ira.

Apa yang harus dipakai ke pura?

Kain dan selendang, dengan bahu tertutup. Sebagian besar pura meminjamkan atau menyewakannya di gerbang.

Persembahan di trotoar itu apa?

Canang sari, persembahan harian kecil berisi bunga dan beras. Berjalanlah memutarinya, bukan melangkahi apalagi menginjaknya.

Apakah tari Kecak sebuah upacara keagamaan?

Bukan. Ia pertunjukan abad kedua puluh yang dikembangkan dari sebuah ritual kesurupan dan digelar untuk penonton. Dengan pemahaman itu, ia layak ditonton.

Kapan Galungan dan Kuningan?

Keduanya mengikuti daur 210 hari, sehingga biasanya jatuh dua kali dalam satu tahun Masehi dan tanggalnya bergeser. Perhatikan batang-batang penjor.

Datanglah, dan berdirilah di belakang

Bali paling indah ketika kalian adalah tamu yang memperhatikan aturannya. Lihat semua kota tempat kami menjalankan permainan, baca soal kawasan ini di empat kuil menakjubkan di Bangkok, atau hubungi kami kalau kalian sedang merencanakan sesuatu untuk sebuah rombongan.